Sejarah - Bondowoso merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Timur. Berada di persimpangan Besuki dan dan Situbondo menuju Jember. Bondowoso menjadi satu-satunya kabupaten yang tidak memiliki wilayah laut.
Adapun asal usul Bondowoso. Jika kalian termasuk di dalamnya, berikut ini adalah penjelasan asal usul Bondowoso.
Asal Usul Kota Bondowoso
Dahulu, ada sebuah kerajaan besar dan megah di pulau Madura. Kerajaan ini cukup luas dan memiliki taman yang indah. Dipimpin oleh Raden Bagus Asra yang berjiwa kepemimpinan.
Dilansir dari kaskus.co.id, Raden Bagus Asra melakukan perjalanan ke pulau Jawa bagian Timur guna memperluas daerah kekuasaannya. Raden Bagus didaampingi oleh pengikut dan tentara kerajaan melewati selat Madura. Raden Bagus pertama singgah di Besuki.
Di Besuki inilah Raden Bagus mengembara dan membuka hutan ke arah selatan. Raden Bagus melewati daerah perbukitan, lembah, dan perkampungan. Pada perkampungan tersebut dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Mereka bermata pencaharian sebagai petani dan peternak.
Raden Bagus beristirahat beberapa hari di perkampungan tersebut. Raden Bagus juga memberikan pengetahuan mengenai bercocok tanam dan beternak yang baik. Kemudian, Raden Bagus melanjutkan perjalanannya hingga berada di suatu desa yang subur.
Disana terdapat seorang tuan tanah yang kaya dan dapat mengatur daerahnya serta berkuasa. Dari sinilah Raden Bagus Asra menakan pendukuh tersebut dengan nama Bondowoso.
Kata Bondowoso ini mempunyai arti Bondo “modal” dan Woso “kuasa”. Kesimpulannya ada seseorang yang memiliki modal dapat berkuasa.
Sejarah Kota Bondowoso, Sejarah kota Bondowoso bermula dari anak bernama Raden Bagus Asra yang merupakan anak dari Demang Walikromo. Demang Walikromo ini merupakan putra Adikoro 4. Pada tahun 1743 ini terjadi pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat sebab diakui sebagai anak selir. Karena tidak terima, Ke Lesap bertarung dan menewaskan ASikoro 4 di Desa Bulenan.
![]() |
| Ziarah Makam KI Ronggo Pendiri Kota Bondowoso | https://www.suarabondowoso.my.id/ |
Pada Tahun 1750 pemberontakan berhenti sejak tewasnya Ke Lesap. Ditahun inilah terjadi pemulihan kekuasaan dan diangkatnya RTA Tjokoningrat yang merupakan anak dari Adikoro 4. Kemudian, terjadi pererbutan kekuasaan dan pemerintahannya ini dialihkan kepada Tjokroningrat anak Adikoro 3.
Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Asra, neneknya Nyi Sedabulangan membawanya ke arah Besuki. Raden Bagus Asra ini kemudian di asuh oleh Ki Patih Alus yang merupakan Wakil Bupati. Raden Bagus ini dididik ilmu bela diri dan ilmu agama.
Menginjak Usia 17 tahun, Raden Bagus dianggat sebagai Mentri Anom. DI tahun 1789, Raden Bagus mendapatkan tugas untuk memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan. Namun, sebelum memulai perjalanan, beliau menikah dengan putri Bupati Probolinggo, yakni Roro Sadiyah.
Di tahun 1794, beliau melakukan perjalanan menyelusuri hutan belantara, dimulai dari daerah wringin, kupang, poler, ke mandiro, terakhir tepat di sebuah lapangan yang sekarang disebut dengan Alun-alun Bondowoso. Di Bondowoso inilah Raden Bagus Asra diangkat sebagai Demang dengan sebutan Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno.
Raden Bagus Asra ini berhasil memperluas wilayah Bondowoso. Sebelum menetapkan hari lahirnya Kota Bondowoso, Raden Bagus Asra ini melakukan puasa selama 41 hari, dan mendapatkan petunjuk bahwa tanggal 17 Agustus 1819 inilah tanggal yang tepat untuk dijadikan sebagai hari lahir Bondowoso.
Kemudian, Bondowoso lepas dari Besuki, dan mengangkat Raden Bagus Asra sebagai penguasa wilayah dan pimpinan agama dan berpredikat Ronggo 1 yang ditandai oleh penyerahan Tombak Tunggul Wulung.
Ditahun 1819-1830, beliau memerintah wilayah Bondowoso dan Jember. Tepat di tahun 1854, beliau mengalami sakit dan di pulangkan ke Bondowoso. Kemudian, di tanggal 11 Desember 1854 Raden Bagus Asra (Ki Ronggo) wafat dan dimakamkan di Asta Tinggi kelurahan Sekarputih, Tegalampel.
![]() |
| Ilustrasi Pusaka Tombak Ki Tunggul Wulung | https://www.suarabondowoso.my.id |
Penduduk asli atau suku yang mendiami provinsi Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Bondowoso adalah suku Jawa, demikian juga di kecamatan Bondowoso. Meski demikian, penduduk dari suku lain juga ada yang tinggal di kecamatan ini, termasuk suku Madura, kemudian suku Bawean, Tengger, Osing, Samin, dan beberapa suku lainnya dari berbagai daerah di Indonesia juga beberapa tinggal di sini
Selain bahasa resmi nasional yakni bahasa Indonesia, bahasa yang umumnya atau banyak digunakan di tempat ini adalah bahasa Jawa, dan juga beberapa penutur bahasa lainnya seperti Madura, dan lainnya
Bahasa Jawa yang digunakan di Jawa Timur, bukan bahasa Jawa baku karena dalam pergaulan sehari-hari umumnya menggunakan bahasa Jawa kasar (Ngoko). Bahasa Jawa resmi dibedakan atas tiga tingkatan pemakaian bahasa, yaitu ngoko, madya, dan Krami (Krama). Bahasa ngoko dipakai untuk orang yang sudah saling kenal dan akrab, juga kepada orang lain yang lebih muda usianya maupun lebih rendah derajat sosialnya (Ngoko Lugu dan Ngoko Ngandap).
![]() |
| Pakaian Tradisional Kota Bondowoso | https://www.suarabondowoso.my.id |
Bahasa Krami digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum akrab, atau lebih tua, dan memiliki status sosial lebih tinggi. Kemudian bahasa Madya muncul sebagai variasi pemakaian antara bahasa Ngoko dan Krami.
Sementara bahasa Madura terbagi menjadi dialek Kangean, Sumenep, Pamekasan, Bangkalan, Probolinggo, Bondowoso, dan Situbondo. Dalam pemakaiannya, bahasa Madura juga mengenal tiga tingkatan yaitu Enja’iya (bahasa halus), Enghi-enten (bahasa tengahan), dan Enghi-bhunten (bahasa kasar).
Tahun 2021, jumlah penduduk kecamatan Bondowoso sebanyak 78.620 jiwa, dengan kepadatan 3.423 jiwa/km². Kemudian, persentasi penduduk kecamatan Bondowoso berdasarkan agama yang dianut yakni Islam 95,61%, kemudian Kekristenan 3,96% dimana Protestan 2,70% dan Katolik 1,26%. Sebagian lagi menganut agama Buddha 0,28% dan Hindu 0,15%. (Tim)
*Dikutip Dari Berbagai Sumber



