![]() |
| Desa Pekauman juga terdapat Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) | https://www.suarabondowoso.my.id/ |
Bondowoso - Kota Bondowoso adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki ribuan situs-situs arkeologi yang tersebar di wilayah-wilayah kecamatan. Situs-situs arkelogi tersebut berupa batu besar peninggalan zaman megalitikum. Situs-situs megalitikum itu diakui menjadi daya tarik pariwisata Kabupaten Bondowoso.
Selain Batu Kenong, situs-situs megalitikum di Kabupaten Bondowoso terbilang cukup beraneka ragam. Heri mengatakan bahwa benda-benda peninggalan zaman batu besar tersebut seperti sarkofagus, kubur bilik, menhir, dolmen, dan batu dakon. Jumlah situs-situs megalitikum di Kabupaten Bondowoso pun berjumlah ribuan.
“Terakhir yang kita data ada 1.123 buah. Beberapa situs ada yang terkumpul pada satu tempat. Ada juga yang mencar-mencar (terpisah) jauh,” kata Heri.
Wisatawan yang mengunjungi situs-situs megalitikum tersebut beragam. Heri menuturkan wisatawan-wisatawan yang datang mulai dari anak-anak sekolah hingga peneliti-peneliti.
“Jadi semua hampir peneliti dari UGM (Universitas Gajah Mada), UI (Universitas Indonesia) kalau mau meneliti megalitikum di Jawa Timur pasti ke Jawa Timur. Kalau anak-anak sekolah ada yang datang dari Situbondo dan Banyuwangi. Biasanya berbus-bus,” ujarnya.
Kabupaten ini berbatasan dengan Situbondo di sisi utara, Banyuwangi di timur, Jember di selatan, dan Probolinggo di barat. Kabupaten Bondowoso memiliki suhu yang dingin karena berada diantara Pegunungan Kendeng Utara, Gunung Ijen, Pegunungan Hyang, dan gunung-gunung lain.
Dengan Wisata edukasi megalitikum, atau Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso ( PIMB) di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Bondowoso. Jika dulunya tak ada informasi tentang nama-nama batu peninggalan sejarah tersebut. Kini di setiap jenis batu itu, sudah terdapat papan informasi yang mendiskripsikan benda-benda Cagar Budaya itu.
Kabupaten Bondowoso menjadikan Pusat Informasi Megalitikum sebagai pusat kajian dan penelitian sebaran benda bersejarah yang ada di seluruh wilayah di Bondowoso, saat ini situs megalitikum yang ada di Bondowoso tersebar di 14 kecamatan dengan jenis yang cukup beragam.
Situs megalitikum itu diantaranya batu kenong, sarkofagus, menhir, dolmen, dan batu dakon. Saat ini Pemkab Bondowoso terus melakukan penelusuran benda-benda bersejarah tersebut.
Pusat Informasi Megalitikum tersebut saat ini sudah menjadi tempat penelitian mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di luar Bondowoso, seperti dari Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada.
Pusat Informasi Megalitikum tersebut, situs-situs yang dimiliki Pemkab Bondowoso akan menjadi destinasi wisata baru sehingga berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Papan informasi tersebut memuat narasi nama batu itu , fungsinya, serta di daerah mana batu itu ditemukan.
Mengingat, beberapa batu yang ada di Grujugan itu, hasil pindahan dari kecamatan lain, misalnya dari Tegalampel, Tlogosari, Taman Krocok, dan beberapa kecamatan lain di Bondowoso. Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso, Tempat Informasi Cagar Budaya (1)
Pusat informasi megalitikum di Desa Pekauman, dibagi dua ruang. Pertama out door, yang terdiri dari batu-batu berukuran besar, dan in door yang isinya batu megalitikum berukuran kecil dan sedang. batu-batu yang terdapat di luar ruang, ada Batu Kenong, Menhir, Dolmen, Batu Dakon, dan Batu Sarkofagus.
Sementara di dalam ruangan terdiri dari Arca Magelit, Arca Kepala Manusia, Gilingan, Phalus, Lumpang Batu, Koin, Keris, dan beberapa jenis peninggalan sejarah yang lain. Semua jenis peninggalan itu, sudah diberikan penjelasan, terutama keguanaannya di masa lalu.
Menurut Muhanmad Aziz, salah seorang Juru Pelihara (Jupel) di Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso menjelaskan, bahwa semenjak wisata edukasi itu dibenahi, pengunjung juga mulai ramai, baik hari-hari aktif atau hari libur.
Di tempat itu juga terdapat paseban, yang meurut Aziz, bisa digunakan untuk kegiatan pendidikan oleh masyarakat, baik instansi sekolah atau yang lain, tanpa harus menyewa alias gratis.
Wisata edukasi megalitikum, atau Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso, di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan, semakin dibenahi, dengan menambah koleksi peninggalan sejarah, dan informasi yang lebih detail, disertai umur benda-benda tersebut.
Puluhan benda peninggalan prasejarah berupa batu Dolmen banyak ditemukan di wilayah Pujer, Bondowoso. Batu Dolmen merupakan salah satu benda peninggalan purbakala zaman prasejarah.
Bentuknya berupa meja batu dengan tiang menyangga juga dari batu. Batu ini merupakan tempat meletakkan sesajian untuk pemujaan pada roh leluhur.
Di bawah batu dolmen biasanya berupa kubur batu. Berfungsi untuk meletakkan mayat agar terlindung dari ancaman binatang buas. Bagian kaki mejanya diperbanyak, hingga mayat tertutup rapat oleh batu.
Di wilayah Pujer tersebut, batu Dolmen terbuat dari batuan jenis andesit basaltis. Jenis batu ini diperkirakan bekas letusan gunung Ijen Purba yang berdasarkan sejumlah literasi meletus sekitar 70 ribu tahun yang lalu.
Batu Dolmen merupakan benda peninggalan zaman prasejarah, yakni era megalitikum. Tak ditemukan sedikitpun tulisan sebagai penanda. Karena di zaman itu memang belum mengenal tulisan atau praaksara. Juga disebut nirleka (nir artinya tidak ada, leka artinya tulisan).
Menurut salah seorang geolog, Heri Kusdaryanto, batu Dolmen yang ada di Bondowoso memang tersentral di wilayah Pujer, Tlogosari, Maesan, serta Wonosari. Di wilayah tersebut kemungkinan juga masih banyak benda purbakala atau prasejarah yang belum terdata dan teregister.
Di wilayah Bondowoso memang banyak terdapat situs maupun benda-benda peninggalan zaman prasejarah yang tersebar di sejumlah kecamatan. Di antaranya Grujugan, Cermee, Wringin, Tamankrocok, Maesan, Tlogosari, Pujer, dan lainnya.
Bahkan, di Pekauman, Grujugan saat ini terdapat Pusat Informasi Megalitik Bondowoso (PIMB). Berisi benda-benda purbakala peninggalan zaman prasejarah dan megalitikum.
Khusus untuk batu Dolmen, memang tersentral di Kecamatan Pujer. Jumlahnya sebanyak 75 buah. Dari jumlah tersebut, 58 buah di antaranya ada di Desa Maskuning Kulon. Diperkirakan, di wilayah tersebut masih banyak batu dolmen yang belum terdata.
Kawasan itu juga diajukan sebagai salah satu item dalam pengajuan ke UNESCO Global Geopark (UGG) bidang culture dan geologi, sebagai Ijen Geopark yang ada di dua wilayah, yakni Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi.
Pertama, Situs Pekauman” patung dewi durga kuno”. Tepatnya di Desa Grujugan Situs Pekauman berada. Di situs tersebut banyak sekali temuan-temuan barang peninggalan pra-sejarah yang sampai sekarang tetap terjaga utuh, seperti kubur batu, pondasi rumah batu, batu kenong, sarkofagus dan yang paling terkenal di situs Pekauman adalah menhir yang biasa masyarakat menyebutnya dengan Beto Nyai.
Untuk menuju ke situs Pekauman kita dapat menggunakan kendaraan umum dari terminal Bondowoso ke arah Jember dan turun di pabrik sumpit di Desa Grujugan dengan biaya sekitar Rp.5000,-. Kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki karena keberadaan situs Pekauman tak jauh dari jalan raya sekitar kurang lebih 1 km.
Tak hanya di situs Kauman. Benda megalitikum banyak tersebar di beberapa situs di daerah Bondowoso seperti situs Glingseran, situs Pujer, situs Lombok dan banyak lagi situs lainnya.
Kedua, Situs Beto Labeng “Batu pintu” Bondowoso, salah satu peninggalan kebudayaan megalitikum yang sampai sekarang masih menjulang kokoh di Kota Bondowoso, tepatnya di Desa Wringin. Di arak-arak sana terdapat batu labeng ( batu pintu) sepintas mirip seperti pintu raksasa.
Untuk mengunjunginya, jika kalian menggunakan bus, sila bertanya pada kondektur bus yang kalian naiki. Tanyalah lokasi situs Beto Labeng nanti kalian akan diturunkan di jalan menuju ke situs. Dilanjutkan berjalan kaki sekira setengah kilometer. Jika masih takut tersesat mintalah warga untuk mengantarkan ke situs megalitikum.
Ketiga, Goa Arak-arak, Informasi tentang goa ini dari seorang sahabat di komunitas RMB (Relawan Muda Bondowoso) komunitas yang bergerak di bidang traveling dan sosial tentang keberadaan Goa Arak – Arak.
Lokasinya terletak di Desa Wringin. Goa Arak-arak ini dahulunya adalah tempat persembunyan para prajurut kita.
Goa ini tak begitu dalam, hanya sebuah cekungan yang terbentuk oleh alam sehingga menyerupai mulut goa. Untuk akses ke Goa arak –arak kita harus melewati medan yang sedikit ekstrim dengan menuruni tebing. Alangkah baiknya jika kita minta tolong pada warga sekitar untuk menjadi guide.
Keempat Situs Goa Bhuta (Goa Buto) peninggalan hindu kuno di Bondowoso. Ketika nenek moyang kita sudah mulai mengenal tentang agama disitulah salah satu kemajuan dari suatu bangsa. Situs ini adalah Situs Goa Buto (atau goa bhuta), berada di Dusun Ampel, Desa Bajuran, Kecamatan Cermee.
Goa Buto hampir mirip dengan makhluk mitologi hindu yaitu Bhutokala. Disana kita bisa menemukan relief yang masih tersisa, namun sayang situs Goa Buto terancam rusak oleh penjarahan kolektor benda purbakala. Banyak aksi pencurian artefak dan kurangnya kesadaran masyarakat tentang keberadaan peninggalan bersejarah di Bondowoso menjadi beberapa faktor kerusakan.
Untuk menuju Situs Goa Buto dari Terminal Bondowoso kita bisa menggunakan bus antar kota dengan tujuan ke Kota Situbondo dengan tarif sekitar Rp.6000,- kemudian turun di Pertigaan Widuri. Dari Pertigaan Widuri dapat dilanjutkan dengan jasa ojek menuju Dusun Ampel atau Jiret Mas.
Kelima, Stonehenge, Liputan sebuah program televisi dan kedatangan Putri Indonesia menilik keindahan Batu Solor, tempat ini mendadak naik daun. Di Batu Solor masih banyak terdapat peninggalan bersejarah seperti menhir dan pahatan di dinding-dinding batunya. Namun keberadaan situs cagar budaya masih belum dibuka untuk umum, karena aksesnya jauh dan medannya yang begitu menantang.
Ada satu yang unik di Batu Solor yaitu batu jabrik atau batu so’onan ( batu yang bersusun), ada juga batu ligga yang merupakan menu wajib untuk dikunjungi ketika berkunjung ke tempat ini.
Ditempat ini masih belum tersedia angkutan umum, jadi untuk menuju lokasi dapat menggunakan ojek dari Widuri menuju Desa Solor. Negolah harga dengan abang ojek dan untuk mengirit biaya mintalah untuk satu kali jalan menuju dua wisata lain yaitu Goa Buto yang saya ceritakan sebelumnya, dan juga Batu Solor tentunya.
Keenam, Situs Goa Buto Si Gember di Sumber Wringin. Masih merupakan salah satu warisan hindu di kota Bondowoso. Ia terletak di Dusun Sumber Canting, Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin.
Untuk menuju ke situs Goa Buto Sumber Canting, sebaiknya menggunakan jasa komunitas traveling yang ada di Bondowoso seperti Relawan Muda Bondowoso , Jejak Petualang Bondowoso, dan MTMA Bondowoso karena selain keberadaannya yang masih tersembunyi.
- Catatan Arkeologi Kota Megalithikum Kota Bondowoso -
Diketahui bahwa , Di Bondowoso banyak terdapat situs pra-sejarah, hampir mencapai 1000 situs. Sangat tidak mungkin untuk mengunjungi satu persatu situs megalitikum yang ada di Kota Tape dalam waktu singkat.
Sebagai catatan, ahli sejarah dan arkeologi yang pemah meneliti wilayah ini, menemukan benda-benda bersejarah itu itersebar di lima desa dan kecarnatan. Antara lain di desa-desa di Kecamatan Tlogosari, Desa Pakauman (Kecamatan Grujugan); Desa Mas Kuning Lor (Kecamatan Pujer), Desa Pakisan (Kecamatan Wonosari), dan Desa Glingseran (Kecarnatan Wringin).
Dari penelitian terbatas para arkeolog pada beberapa tahun lalu ditemukan 15 buah sarkopagus di Kecamatan Grujugan. Selain itu, pitemukan pula dolmen (15), batu kenong (65), dan sebuah patung inenek moyang. Di l1ogosari ditemukan lima buah yoni, relief (l), sarkopagus (10), dolmen (4), batu kenong (15), dan sebuah alat rumah tangga. Di Pujer juga ditemukan dolmen (80), batu kenong (12), dan lima buah alat rurnah tangga. Sementara di Wonosari ranya ditemukan 30 buah dolmen, dan di Wringin terdapat 67 buah sarkopagus, menhir (I), batu kenong (15 buah), alat rurnah tangga (10), dan dua gua alam.
Untuk informasi tentang situs-situs tersebut bisa kamu dapatkan di Kantor DISPARPORAHUB Bondowoso yang beralamat di Jl.Ahmad yani No.64 Kecamatan Bondowoso, nomor telepon +62 332 421475. (Tim)


