Iklan

terkini

Tradisi Ojung Bondowoso, Setetes Darah Pemanggil Hujan

Redaksi Utama
Kamis, 05 Januari 2023, Januari 05, 2023 WIB Last Updated 2026-02-28T14:54:04Z


Bondowoso - Masyarakat Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur memiliki seni budaya tradisional unik dan tidak ditemui di daerah lain yang bernama Ojung. Jika biasanya kesenian tradisi menampilkan pertunjukkan yang menghibur, tradisi ini agak berbeda.


Penonton akan dibuat deg degan dan merinding sebab akan menyaksikan dua lelaki saling menyabetkan rotan ke badan lawan. Bahkan, Para seniman Ojung yang tengah tampil itu tak mengenakan pelindung badan alias bertelanjang dada.

Diketahui juga bahwa Tradisi Ojung dilakukan pada tiap bulan kedelapan penanggalan Madura, yaitu bulan Rebbe. Di bulan ini masyarakat Madura dan Bondowoso mengadakan slametan desa yang dinamakan Gadhisa. Acara ini dilakukan untuk menjaga desa dari bencana atau hal-hal yang tidak diinginkan. 

Tidak bisa dibayangkan betapa sakit dan perihnya sabetan rotan yang mengenai tubuh mereka. Namun, justru di situlah letak keistimewaan tradisi Ojung. Dua lelaki akan saling menunjukkan ketangkasannya di medan laga.


Dalam situs Triptus, disebutkan Di setiap akhir musim kemarau, Desa Tapen, Kecamatan Bondowoso, Jawa Timur, orang-orang berkumpul untuk menyaksikan ritual Ojung. Ritual ini dilakukan sebagai permohonan turunnya hujan kepada Tuhan. 



Sebenarnya tradisi Ojung tidak hanya ada di Kabupaten Bondowoso, tetapi juga dikenal di daerah lain seperti Madura dan di kalangan masyarakat Pegunungan Tengger, Jawa Timur. Secara teknis, pelaksanaan pertunjukan Ojung bisa dikatakan sama. Perbedaannya ada pada tujuan penyelenggaraan.


Masyarakat Kabupaten Bondowoso menggelar pertunjukan kesenian Ojung sebagai upaya meminta hujan turun. Oleh karena itu, pertunjukan kesenian tradisi ini biasanya digelar saat musim kemarau.


Sementara itu, masyarakat di Pulau Madura menggelar tradisi Ojung untuk menghindari bencana. Sedangkan masyarakat suku Tengger menggelar Ojung pada perayaan Hari Raya Karo.


Masyarakat suku Tengger menggelar pertunjukan Ojung dengan suasana suka cita. Kesenian tradisional ini adalah pertarungan bela diri kaum lelaki Tengger sebagai simbol kedewasaan dan keberanian, seperti dikutip dari laman Budaya Indonesia.



Masyarakat Kabupaten Bondowoso khususnya warga Desa Tapen, Kecamatan Bondowoso berduyun-duyun memenuhi area pertarungan bela diri Ojung pada setiap akhir musim kemarau. Ritual ini dilakukan sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menurunkan hujan di tanah yang kering akibat kemarau.


Pada pelaksanaannya, dua pria bertelanjang dada saling berhadapan sembari memegang rotan sekitar 1,5 meter. Pertarungan ini akan dipimpin oleh seorang wasit.


Sehari setelah Gadhisa, para penduduk baru mengadakan ritual Ojung. Jika dulu Ojung hanya boleh diikuti oleh peserta berumur 21-50 tahun, kini banyak peserta berumur 10-20 tahun yang mengikuti Ojung. 


Asal Muasal

Dalam Sebuah sumber dilansir dari Lontarmadura.com Ojung pertama kali dipakai oleh empat bersaudara yang sedang mencari sumber mata air. Saat mata air yang mereka miliki telah mengering, mereka saling berlatih tanding amaen Ojung satu sama lainnya di atas bukit secara bergiliran dan salah satu mereka menjadi wasitnya. Setelah itu mereka menemukan sumur mata air yang sampai sekarang menjadi tempat bermain Ojung setiap tahunnya.



Tekhnis Permainan Ojung 

Secara teknis, seni ini dilakukan oleh dua orang pemain yang ditengahi oleh seorang wasit. Masing-masing pemain memiliki senjata yang terbuat dari 3 buah rotan sepanjang 110 cm yang dikepang dengan serat nanas jadi satu dan di ujungnya sengaja dibuat pentolan bergigi. Tongkat ini disebut lapolo/lopalo. 



Pemain juga menggunakan pelindung kepala berbentuk kerucut yang terbuat dari karung goni yang disebut bukot. Di dalam bukot dilengkapi dengan kerangka dari sabut buah kelapa dan di sampingnya dipakai sebilah kayu yang berfungsi membelokkan pukulan yang mengarah ke wajah. 


Terkadang, di bagian muka bukot juga diberi anyaman longgar dari rotan atau tali untuk melindungi muka secara lebih baik. Pemain juga membutuhkan banyak sarung. 


Sebuah sarung digulung sebagai Odheng di bawah alat pelindung kepala; sarung lain dipakai untuk membalut sebagian tangan kiri hingga pergelangan yang berfungsi sebagai tangkes (menangkis); dan satu sarung lagi, Stagen, untuk dikenakan di pinggang. 


Tapi, pemain justru bertelanjang kaki dan dada. Serangan yang diperbolehkan adalah Sabet kearah tubuh bagian atas. Tidak diperbolehkan serangan Soddhuk atau menusuk.


Untuk mencari lawan tidaklah sulit, di arena gelanggang 10×10 meter itu setiap penonton dipersilahkan untuk mencari lawan sebanding, terutama tinggi dan umur. Bila sepakat bertanding, maka yang bersangkutan dipersilahkan melepas baju.


Dipimpin Wasit disebut BABUTTO


Permainan  ditengahi oleh wasit yang disebut babutto. Permainan dianggap selesai apabila wasit telah menentukan siapa pemain yang terluka terlebih dahulu atau pemain yang tongkatnya jatuh lebih dahulu. Pada pertandingan tertentu, wasit berhak menghentikan pertandingan yang menurutnya berat sebelah. 


Meskipun hal itu kadang dilakukan saat kedua pemain masih saling menyerang. Tidak heran, jika wasit juga mengalami luka-luka saat menengahi pertandingan dan tidak heran juga jika sebagian pendukung merasa kecewa dengan keputusan wasit., namun tidak ada dendam antara mereka.


Selama pertandingan, musik tradisional yang disebut “Okol” dan kidungan Madura menambah semarak tradisi Ojung tersebut. Musik yang jarang dijumpai di daerah lain ini terdiri dari 3 buah Dung-Dung (akar pohon tangkel/siwalan) yang dilubangi ditengahnya sehingga bunyinya seperti bas, dan kerca serta satu alat musik klenengan sebagai pengatur lagu.



Meskipun tidak ada pemenang, para pemuda yang akan mengikuti permainan Ojung ini sebelumnya dilatih dalam hal penggunaan lopalo, kegesitan langkah, dan taktik pertandingan. 


Uniknya konon dalam permainan Ojung ini semua petarung masih menggunakan jimat dan ilmu kekebalan. Walaupun begitu, tidak jarang para petarung tetap terluka dan berdarah.

Dulu, Ojung merupakan bagian penting dari Rokat (selamatan) orang-orang Batuputih dalam memohon turunnya hujan pada musim Nembara’ (kemarau). Tradisi ini kini mulai jarang peminatnya dikarenakan pergeseran nilai budaya pada masyarakat yang menyebabkan permainan ini dianggap kasar.(Red)

Sumber : Wikipedia, Lontarmadura.com

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Tradisi Ojung Bondowoso, Setetes Darah Pemanggil Hujan

Terkini

Iklan