Jembatan Situ Banda Jineng Dalem Diresmikan Hasil Swadaya HKTI Bali dan Warga Wujudkan Akses Pertanian Untuk Warga

Advertisement

Advertisement

Jembatan Situ Banda Jineng Dalem Diresmikan Hasil Swadaya HKTI Bali dan Warga Wujudkan Akses Pertanian Untuk Warga

REDAKSI
Minggu, 06 September 2026





Singarajamedia.co - Keinginan warga Desa Jinang Dalem, Kecamatan Buleleng untuk memiliki jembatan penghubung ke Desa Penglatan akhirnya terwujud sudah. Hal ini ditandai dengan diremsikannya Pembangunan jembatan sepanjang 6 meter dengan lebar 4 meter pada Minggu (06/09/2026).


Jembatan Tani ini merupakan murni hasil swadaya masyarakat yang dimulai sejak 2018. Tujuannya adalah agar produksi dan pemasaran hasil pertanian semakin lancar.


Situ Banda, adalah nama Jembatan yang diresmikan,  melalui kegiatan sederhana yang dihadiri oleh Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah dan Ketua HKTI Buleleng dr. Ketut Putra Sedana atau dr. Caput. Selain itu, hadir juga Ketua DPC Partai Gerinda Buleleng Gede Harja Astawa dan para anggota DPRD Buleleng dari partai Gerindra.




Dikatakan oleh Ketua HKTI Bali yang akrab dipanggil De Gadjah bahwa, ini merupakan kunjungan keduanya ke lokasi. Pada kunjungan pertama, ia sempat menerima aspirasi warga jineng dalem terkait akses jalan tersebut.






"Saya anggap ini murni swadaya masyarakat. Memang ada sedikit dana hibah bansos, tapi itu kan hak warga dari pajak. Yang saya harukan adalah kegigihan warga berjuang hingga jembatan ini bisa terwujud, walau belum 100 persen," ujar De Gadjah (06/09/2026).






De Gajah menegaskan ke depan HKTI Bali akan berkoordinasi dengan Pemkab Buleleng, Pemprov Bali, hingga pemerintah pusat untuk menyempurnakan jembatan.






"Kami tidak berebut nama. Kami ingin bersinergi agar jembatan ini benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat luas," tegas De Gajah.





Sementara Perbekel Jinangdalem Ketut Mas Budarma menjelaskan, pembangunan dimulai 2018 dengan pembebasan lahan. Tujuannya membuka akses warga yang memiliki lahan di Desa Penglatan.






"Prosesnya panjang. Ada dana bansos, sumbangan pihak ketiga, dan yang paling besar adalah swadaya warga berupa iuran dan tenaga," jelas Budarma.






Pemerintah Desa juga menggelontorkan dana APBDes sebesar Rp55 juta. Total biaya pembangunan ditaksir mencapai Rp250 juta.






"Volume jembatan panjang 6 meter, lebar 4 meter. Lebih banyak dananya dari swadaya murni. Karena itu kami mohon dukungan semua pihak untuk bersama-sama menyempurnakan jembatan ini agar fungsinya maksimal," harapnya.






Dalam kesempatan yang sama Ketua HKTI Buleleng Dr. dr. Putra Sedana atau dr. Caput menambahkan, kehadiran jembatan sangat membantu petani. Selama ini warga kesulitan membawa hasil panen antar desa.






"Ini yang selama ini kita perjuangkan di HKTI. Dengan adanya jembatan, petani tidak lagi kesulitan distribusi hasil pertanian," katanya.






Dokter Caput juga mengaku menerima banyak usulan  dari desa lain. Bulan ini pihaknya akan turun ke Kecamatan Sawan, Desa Sudaji untuk bertemu kelompok Subak dan menjaring aspirasi petani.






"Kami akan kaji dan kumpulkan semua aspriasi para petani. Fungsi HKTI adalah sebagai fasilitator untuk memenuhi kebutuhan para petani - petani kita,"tandasnya.




Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) berkomitmen mengawal penyempurnaan Jembatan Swadaya Situ Banda di Buleleng guna memperlancar distribusi hasil pertanian warga antardesa. HKTI Bali bersama HKTI Buleleng berencana berkoordinasi dengan pemerintah daerah hingga pusat serta turun langsung menyerap aspirasi petani di lapangan. ( TIM)

Ad Section